Harmonisasi Etnis dalam Gaya


FOTOGRAFER: LEO PRIMA

TRIBUN – Perpaduan motif Tionghoa, Dayak dan Melayu (Tidayu) dalam batik khas Singkawang melambangkan keberagaman dalam kebersamaan , yang ditampilkan dengan warna-warna alami seperti merah, coklat, dan merah jingga. Rika Aprianti, desainer muda Kalimantan Barat yang berani menampilkan batik bukan hanya sebagai busana resmi, tapi juga sebagai busana casual bagi anak muda.

Rika telah berhasil membuat kreasi unik, sesuai program pemerintah untuk membudayakan produk lokal serta tepat sasaran. “Saya buat memang dengan konsep casual ready to wear. Targetnya remaja dan cukup dewasa 17-25 tahun. Supaya batik Tidayu Singkawang ini juga menjamah kawula muda,” ucapnya kepada Tribun, Selasa (1/2).

Karena bertemakan casual dan siap pakai, dia sengaja membuat busana yang simpel, cerah, dan tetap nampilkan keunikan dari kain Tidayu tersebut. Kain Tidayu yang terbuat dari kain katun sangat cocok dikenakan pada daerah tropis seperti Kalbar.

“Tidayu motif harmoni yang melambangkan keharmonisan hidup dalam keberagaman etnis Tionghoa, Dayak dan Melayu,” tutur Rika. Dia melihat Tidayu bermotif langgeng yang diharapkan keharmonisan, kebersamaan, kerukunan tetap terjaga dan langgeng sampai kapanpun. Sedangkan motif gempa kombinasi ke duanya agar bisa menjadikan batik Tidayu dikenal semua kalangan karena menonjolkan kerukunan antaretnis.

Masing-masing corak yang dionjolkan dari batik Tidayu ini sebagai perpaduan simbol Tionghoa dengan liong, kemudian Dayak dengan ukiran khasnya, dan kipas serta model kayu ukiran di atas bahan kain.

“Sebenarnya untuk pola busananya saya terinspirasi busana di era 60-an. Yang menampilkan mini dress dan legging serta aksesori unik dengan kombinasi unsur etnik,” tambah Rika. Kesan unik rancangannya disempurnakan dengan bolero rajutan halus berwana tanah. Dia memang ingin menampilkan satu paket busana yang mengangkat nilai-nilai etnik, tapi tetap cocok dikenakan saat ini dan masa akan datang.

Tidak perlu banyak aksesori untuk mempercantik busana Tidayu. Hanya beberapa gelang dan kalung ditambah tata rias simpel serta eksotik.

Simbol Asimilasi Budaya
Mengenakan batik Tidayu sesuai dengan program penggalakan pemerintah untuk mencintai produk dalam negeri atau lokal. Tidayu, kain bermotif bergambar perpaduan simbol-simbol Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang menjadi suku besar yang ada di Singkawang, Kalimantan Barat.

Unik, kesan pertama mendengar dan melihatnya karena merefleksikan simbol-simbol Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Sebagai bukti terjadinya asimilasi budaya yang sangat bagus. Aneka budaya yang saling memperkuat dan mempersatukan dituangkan pada sehelai kain.

Motif Tidayu didominasi warna merah, coklat, dan merah agak oranye. Masing-masing corak merupakan perpaduan simbol Tionghoa dengan liongnya, kemudian Dayak dengan ukiran khasnya, dan kipas serta model kayu ukiran melayu melekat di atas bahan kain.

Ini adalah warisan yang perlu dilestarikan dan diharapkan menumbuhkan kesadaran sense of belonging masyarakat akan kekayaan budaya bangsa kita. Keharmonisan, keberagaman dan kekayaan alam bersumber dari akar budaya sekaligus mengenalkan Indonesia, punya aneka kekayaan yang dapat menyatukan keberagaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s